Geruh Tak Berbunyi, Malang Tak Berbau

Menabrak ANJING

Saat tulisan ini di terbitkan, saya masih merasakan nyeri di bagian tulang rusuk sebelah kanan. Luka gores di tangan sudah mulai mengering dan warna biru di bagian bawah mata sudah mulai memudar.

Saya sengaja mengerakkan jari jemari dengan cara mengetik agar jari saya tidak kaku. Iya, kaku. Sebagaimana kakunya sikapku padamu. Beneran cinta tapi tidak tahu bagaimana cara mengungkapkannya #Eeaaa

Minggu, 5 September 2021

Setelah selesai mesin rumput di ladang tempat emak saya menanam padi, saya langsung pulang ke rumah. Sampai di rumah hampir pukul 16.00 WIB. Saya hanya beristirahat sebentar sebelum memutuskan untuk mandi sebab saat itu saya belum sholat ashar.

Setelah sholat ashar, adik saya dan anaknya minta di antarkan ke rumah kakak saya yang berada di Sungai Alam. Saya sih oke-oke saja tanpa punya firasat sedikit pun kalau 1,5 jam kemudian saya akan mengalami kecelakaan.

Kami berangkat ke Sungai Alam pukul 17.00 WIB. Waktu berangkat, emak menitipkan uang minta di belikan Nenas di Penampi. Karena hal inilah yang membuat saya memutuskan memakai Jupiter MX, biar Nenas yang saya beli nanti bisa di letakkan di bagian depan motor. Kalau bawa V-Ixion kayak biasa, pasti ribet.

Entah kenapa pada hari itu saya tidak memakai helm. Padahal biasanya, kemanapun saya pergi walaupun itu cuma sekitaran Tameran apalagi Sungai Alam, helm putih bergambar Angry Birds tidak pernah lepas dari kepala.

Begitu juga dengan jaket. Pada hari naas itu saya cuma memakai masker putih dan baju kaos berkerah tanpa memakai jaket sama sekali. Padahal kemanapun saya pergi, jaket adalah benda wajib yang saya pakai. Saya dan jaket adalah dua hal yang tidak bisa di pisahkan. Seperti layaknya Upin sama Ipin, Lesty Kejora sama Rizky Billar dan Aku sama Kamu #Eeaaa

Saya tidak memakai helm sama jaket karena beranggapan bahwa perjalanan saya kali ini hanya sebentar saja. Mengantar adik saya dan anaknya ke Sungai Alam, beli Nenas titipan emak, kemudian balik lagi ke rumah. Saya juga sudah berencana tidak akan membuang-buang waktu sebab selepas Sholat Isya hari itu saya ada agenda rapat pembagian tugas di rumah salah satu Ketua RT di kampung.

Sampai saat itu pun, saya masih belum punya firasat sedikit pun kalau 1,5 jam kemudian saya akan mengalami kecelakaan.

***

Saya mengendarai Jupiter MX dengan kecepatan sedang. Setelah sampai ke Penampi, saya langsung memutuskan untuk membeli Nenas titipan emak terlebih dahulu. Saya takut tempat jual Nenas nya tutup  kalau saya beli nya pas pulang nanti.

Kami sampai di rumah kakak saya pukul 17.50 WIB. Rencananya saya mau langsung pulang, tapi kakak saya minta tolong men-download-kan sertifikat vaksinnya. Dia bingung sebab SMS waktu dia vaksin kemaren hilang karena Hp nya baru di install ulang.

Tidak butuh waktu lama untuk saya men-download sertifikat vaksin milik kakak saya. Selain karena jaringan di rumahnya bagus, saya juga sudah paham benar download sertifikatnya di mana.

Berhubung waktu itu sudah lewat pukul 18.00 WIB, saya memutuskan pulang setelah sholat maghrib saja, sebab sebentar lagi adzan akan segera berkumandang. Emak saya selalu berpesan, jangan maghrib di tengah jalan.

***

Setelah sholat maghrib, saya memutuskan untuk segera pulang. Sebelum pulang, abang ipar saya menyuruh saya makan terlebih dahulu. Tapi saya tidak mau, sebab waktu itu saya memang tidak lapar.

Ini juga adalah hal yang tidak lumrah. Biasanya saya selalu makan terlebih dahulu sebelum pulang dari rumah kakak saya. Saya makan hampir semua masakan yang di masak sama kakak saya. Ikan goreng yang di sambal, gulai jengkol, atau pun cuma tempe yang di goreng campur bilis dan kacang tanah. Tapi tidak tahu kenapa, pada hari itu hati saya memang tidak tergerak untuk makan.

Setelah pamit, saya pun memutuskan untuk pulang.

Dan lagi-lagi saya mengalami kejadian yang tidak biasa. Waktu saya pamit, anaknya adik saya yang biasanya menangis mau ikut saya kemanapun saya pergi, saat itu tidak mau salam dengan saya, bahkan setelah saya keluar dari rumah kakak saya, dia langsung menutup pintu cepat-cepat.

Sampai saat itu pun, saya masih belum punya firasat sedikit pun kalau 15 menit kemudian saya akan mengalami kecelakaan.

***

Setelah keluar dari gang rumah kakak saya, saya berhenti sebentar mengisi minyak motor di kedai yang persis berada di samping gang tersebut. Setelah selesai mengisi minyak, saya kembali melanjutkan perjalanan. 30 meter kemudian, saya kembali berhenti di tempat jual KFC pinggir jalan. Saya membeli 2 potong untuk Arif, keponakan saya yang rumahnya di samping rumah saya.

Setelah membeli ayam goreng, saya kembali melanjutkan perjalanan. Di jalan saya terfikir untuk membeli Buah Dendan buat emak saya. Kebetulan sekarang memang musimnya Buah Dendan. Kalau dulu harga perkilonya Rp. 15.000; sekarang hanya tinggal Rp. 5.000;

Biasanya saya membeli Buah Dendan di tempat ibuk-ibuk yang tempat jualannya tidak jauh dari rumah teman saya, Sinta Belila. Tapi pas saya lewat, tempat jualannya tidak ada yang nunggu. Mungkin ibuk-ibuk penjualnya sedang sholat maghrib.

Biasanya saya selalu berhenti terlebih dahulu, tapi pada hari naas tersebut saya hanya lewat begitu saya di tempat jual Buah Dendan tersebut. Saya berfikir beli Buah Dendan nya nanti saja, di Tameran juga banyak yang menjualnya di pinggir jalan.

Jadi saya melanjutkan perjalanan dengan kecepatan kira-kira 60 KM/Jam.  Sampai di Desa Penampi atau Desa Kelebuk, saya kurang tahu, pokoknya tidak jauh dari Kelenteng baru. Tiba-tiba melintas anjing putih, dan tidak lama kemudian melintas anjing hitam dalam keadaan berlari.

Kalau anjing putih, saya melihatnya dengan jelas. Tapi tidak tahu pula di belakang anjing putih tersebut akan berlarian lagi anjing hitam. Nah, anjing saya inilah yang saya tabrak.

GEDUBRAKKKKK….

Saat tabrakan tersebut, saya jatuh ke samping kanan dalam keadaan terlentang kemudian bergulingan 2 kali. Pemandangan kabur, jantung berdetak cepat, luka di lengan kanan tidak berasa, nafas menyesak dengan cepat.

Waktu itu saya fikir saya telah mati. Saya bangkit dengan cepat lalu melihat ke bawah. Saya berfikir yang bangun itu adalah roh saya sedangkan jenazah saya tergeletak di bawah. Tapi saya tidak melihat apa-apa di bawah selain motor saya yang tumbang dan Nenas titipan emak yang hancur berserakan.

Saya sadar kalau saya masih hidup ketika orang datang beramai-ramai. Ada orang asli tempatan dan ada orang yang kebetulan melintas di tempat kejadian.

Seketika banyak suara berhamburan. Banyak pertanyaan yang menunggu datangnya sebuah jawaban. Saya yang sudah berdiri dalam keadaan terluka dan sesak nafas, hanya menghampiri seseorang minta di angkat ke atas (di lambung) agar sesak saya berkurang. Dan celakanya, orang tersebut tidak sanggup melambung saya karena badannya kecil. Tidak sanggup mengangkat badan saya yang beratnya 74 Kilo.

Akhirnya ada abang-abang yang badannya agak tinggi berhasil mengangkat saya. Seketika nafas saya kembali normal walau badan saya sebelah kanan seperti hancur berantakan.

Setelah nafas saya normal, hal pertama yang saya cari adalah anjing hitam yang barusan saya tabrak. Walau bagaimana pun saya merasa bersalah dan jujur saya tidak sengaja menabrak anjing tersebut. Abang-abang yang berhasil mengangkat saya tadi bilang “Anjingnya biarkan saja. Kondisi abang yang perlu di perhatikan terlebih dahulu”.

Saat saya memandang berkeliling, baru saya sadar ternyata di situ telah di kerubungi oleh banyak orang. Ada ibuk-ibuk yang mukanya pucat bertanya apa saja yang luka. Kemudian dia meminta anak gadisnya mengambilkan air di rumahnya kemudian mencampurnya dengan gula untuk saya minum. Dan ada pula abang-abang lain yang melarang saya di beri air, biar tunggu 15 menit dulu karena saat itu jantung saya masih berdegup dengan kencang.

Di saat itu saya bingung, mau minum air yang di campur gula sama ibuk-ibuk tadi atau mengikuti saran abang-abang yang melarang minum sebelum 15 menit berlalu. Di saat saya bingung tersebut, abang-abang yang menolong melambungkan saya tadi mengulurkan aqua botol ukuran kecil dan menyuruh saya segera meminumnya.

Belum sempat saya membuka tutup botol aqua tersebut, ibuk-ibuk tadi kembali menyodorkan air putih yang telah di campur dengan gula kepada saya. Akhirnya saya minum air yang di campur gula tersebut.

Baru mau tenang, tiba-tiba datang bapak-bapak umur sekitar 40 tahun pakai motor matic dan menggunakan helm. Saya tidak yakin kalau itu warga sekitar apalagi pemilik anjing hitam yang saya tabrak tadi.

Dari pertanyaan dan pernyataannya terdengar tidak enak. Seolah-olah dia menyalahkan saya kenapa menabrak anjing tersebut. Dalam hati saya bilang : “Saya belum gila dengan sengaja menabrak anjing tersebut, Pak. Jangan kan anjing, katak di tengah jalanpun kalau saya lihat, saya tidak sampai hati menabraknya”.

Keadaan sempat memanas. Saya sudah punya firasat bahwa bapak-bapak ini mau memanfaatkan situasi. Mungkin mau minta ganti rugi. Saya bersedia ganti rugi tapi masalahnya anjing yang saya tabrak tersebut tidak ada lagi di sana. Mungkin sudah kabur. Dan itu berarti anjing tersebut tidak mati.

Untung abang-abang yang melambung saya barusan ngotot bilang kalau saya tidak sengaja. Lagian dia yang akan mengantar saya pulang dan mengurus semuanya. Melihat sikap tegas abang-abang tadi, bapak-bapak yang memanaskan situasi tadi agak bergeming.

Akhirnya saya di antar pulang sama abang-abang tadi dengan satu temannya yang merupakan orang Gg Jawa. Pada malam itu mereka berdua mau pergi ke Ketam Putih. Saya di bonceng abang-abang tadi dan temannya bertugas membawa motor saya.

Sampai di rumah saya langsung menyungkur. Nafas saya kembali menyesak. Emak saya yang mengetahui saya kecelakaan, langsung menjerit. Seketika rumah menjadi ramai.

Adik saya langsung pergi menjemput tukang urut. Sedangkan kakak saya langsung menelepon ambulance. Saya harus segera di bawa ke puskesmas sebab ada sedikit luka di kepala saya. Mereka takut kepala saya kenapa-kenapa.

Selama menunggu ambulance dan tukang urut datang, saya hanya mengerang kesakitan dan sesak nafas. Baju saya di buka dengan susah payah, dan abang-abang yang membantu saya tadi mengurut saya pelan-pelan sambil menceritakan kejadiannya sama keluarga saya.

Tidak lama kemudian tukang urut yang di jemput adik saya tadi datang. Dia langsung mengurut badan saya di bagian belakang dan dada. Mencabut urat belikat saya yang terbenam dan memperbaiki pergelangan kaki kanan saya yang terkilir.

Sebenarnya saat itu nafas saya sudah tidak sesak lagi. Hanya tinggal perih ketika menarik nafas panjang. Mungkin karena benturan dengan aspal.

Belum selesai di urut, tiba-tiba ambulance datang. Saya langsung di bawa pakai ambulance ke puskesmas saat itu juga. Saya hanya bisa pasrah. Padahal saat itu saya ingin bilang kalau saya tidak perlu di bawa ke puskesmas sebab saya ingat persis bahwa kepala saya tidak terbentur. Luka di kening hanya goresan kecil. Tidak mengeluarkan darah bercucuran yang menjadi patokan kalau kepala saya bocor.

Yang saya butuhkan cuma di urut sampai selesai sebelum tubuh saya yang terbentur membengkak karena mengalami peradangan.

Kali ini firasat saya terbukti. Sampai di puskesmas saya cuma di tanya-tanya doang. Di suruh nunggu sampai 2 jam dan di pasang selang oksigen. Yang saya butuhkan saat itu sebenarnya bukan oksigen tapi luka saya perlu di bersihkan dari pasir-pasir. Sampai saya pulang dari puskesmas, hal itu tidak saya dapatkan. Luka saya hanya di usap pakai apa gitu yang rasanya pedih agar tidak infeksi. Dah gitu aja.

Setelah di beri 3 jenis obat, saya di bolehkan pulang. Saya sampai rumah pukul 22.00 lewat. Sempat singgah di rumah tukang urut tadi untuk minta di lanjutkan mengurutnya. Tapi tukang urutnya tidak ada di rumah. Dia pergi ke Tameran untuk mengurut orang.

***

Pasca mengalami kecelakaan ini, ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan :

  • Apapun yang terjadi, semua nya sudah menjadi rahasia Allah SWT. Kita cuma berencana, tapi Tuhan juga yang menentukan segalanya. Saya hanya pergi sebentar, malah tidak pakai helm dan jaket kayak biasa, tapi siapa sangka saya mengalami kecelakaan tak terduga. Tanpa firasat sama sekali. Ini menjadi pelajaran penting bagi kita semua bahwa tidak ada yang bisa menjamin apa yang akan terjadi kepada kita bahkan untuk hitungan 1 detik kedepannya.
  • Setelah mengalami kecelakaan ini, saya bertekad akan lebih memperhatikan keselamatan dalam berkendara. Pakai helm dan jaket kayak biasa. Sebab saya yakin kita sama-sama sepakat bahwa helm di cipta bukan untuk di pakai pas perjalananan jauh semata. Jauh atau dekatnya perjalanan, yang namanya aspal tetap saja keras. Kalau pakai helm, paling tidak kita sudah berikhtiar melindungi kepala kita sendiri.
  • Saat kecelakaan tersebut terjadi, saya merasa seolah-olah sudah mati. Tapi Allah SWT masih memanjangkan umur saya. Mau tahu kenapa? Sebab dosa saya terlalu banyak dan Allah masih mengizinkan saya untuk bertaubat.
  • Saat saya terbaring sakit, emak lah yang sibuk menyediakan segalanya. Mulai dari obat, makanan dan lain-lain. Emak tidak sendirian tapi di bantu sama saudara-saudara saya yang lain. Ini menjadi pelajaran penting untuk kita semua bahwa keluarga adalah elemen yang sangat penting dan utama. Kemana pun kita pergi, apa pun yang terjadi sama kita, keluarga lah orang pertama yang akan menerima kita dengan tangan terbuka. Coba lihat di luar sana, banyak orang yang menganggap keluarganya kayak orang asing karena kekurangan harta sedangkan orang asing di anggap keluarga karena kaya.
  • Malam pertama pasca kecelakaan tersebut, saya bermimpi di ajak orang tidak di kenal untuk mengadakan perjalanan jauh. Arahnya seperti menuju kota Pekan Baru. Tapi sepanjang jalan yang saya lihat adalah tempat-tempat yang terasa asing buat saya. Saya sudah melewati setengah perjalanan sebelum memutuskan untuk kembali ke pangkal jalan. Sebab saat itu saya merasa ada sesuatu yang lupa saya bawa. Seperti sebuah dokumen. Saat saya bangun, saya langsung istighfar. Tetangga yang saya ceritakan mimpi tersebut bilang “Untung dkw tak ikut, kalau ikut entah apa yang bakal terjadi”.
  • Malam kedua pasca kecelakaan, orang yang spesial buat saya datang. Dia tidak datang sendirian tapi ditemani sama emak dan adik bungsunya. Ini adalah moment langka yang tidak akan pernah saya lupa. Kalau di jenguk sama orang yang kamu sayang, pasti sudah menjadi hal yang biasa. Tapi kalau di jenguk sambil membawa emak dan adik bungsunya, itu adalah salah satu dari 7 keajaiban dunia versi on the spot. Hahaha
  • Selama saya sakit, saya tidur di ruangan tv. Di temani sama emak dan keponaan saya. Otomatis kamar tidur saya berada dalam keadaan kosong. Orang bilang kalau kamar kosong dalam jangka waktu yang lama, lama-lama akan di huni oleh penghuni yang tidak kasat mata. Mungkin karena hal itu lah yang membuat Lylia Silvanna Putri berinisiatif untuk menunggu kamar saya selama saya sakit. Mau tahu siapa itu Lylia? Tenang, nanti akan saya jelaskan di tulisan tersendiri. Sabar, ya!!!
  • Untuk pertama kalinya dalam hidup, saya sholat di atas kursi. Sebab badan saya sebelah kanan tidak memungkinkan untuk ruku’ dan sujud seperti biasa. Di gerakkan sedikit saja sakitnya kayak di tusuk ribuan jarum. Ngilu kayak di iris-iris pakai sendok. Dari kejadian ini saya bisa merasakan apa yang di rasakan sama pak cik saya yang bertahun-tahun sholat dengan bantuan kursi sebab sakit yang di deritanya.
  • Dan untuk pertama kalinya setelah dewasa, saya kembali merasakan makan pakai tangan kiri. Walaupun pakai sendok tapi tetap saja saya merasa aneh. Ini semua terjadi karena tangan kanan saya cedera sehingga kaku kalau di gunakan untuk menyuapkan makanan ke mulut. Dan jujur, makan pakai tangan kiri itu ribet dan entah kenapa saya merasa tidak kenyang sama sekali. Udah seperti makan kuaci. Kenyang tidak, pegal iya. Hahaha

PENUTUP

Pasca kejadian kecelakaan ini, saya semakin yakin bahwa perbuatan baik akan menghasilkan hal yang baik pula. Dulu waktu melihat kecelakaan lalu lintas, saya selalu menyempatkan diri untuk berhenti. Menolong apa yang bisa saya tolong. Misalnya mengangkat korban. Memberinya minum. Atau cuma sekedar menenangkan pelaku kecelakaan bahwa semua akan baik-baik saja.

Mungkin karena perbuatan kecil yang menurut kita tak ada artinya itulah yang membuat Tuhan membalasnya dengan hal yang sama. Waktu saya kecelakaan, banyak orang datang menolong. Ada ibuk-ibuk yang memberikan saya minum, ada abang-abang yang mengantarkan saya pulang dan ada bapak-bapak yang ikut memanaskan situasi. Orang yang seperti bapak-bapak tersebut harus tetap di jaga supaya cincin batu akik yang kamu pakai ada gunanya. Hahaha

Terakhir, akan selalu ada orang baik di sekitar kita. Bila tidak kau temukan, jadilah salah satu diantaranya.

0 Response to "Geruh Tak Berbunyi, Malang Tak Berbau"

Posting Komentar

Jika ada pertanyaan, silahkan corat-coret di kotak komentar. Terima kasih!

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel