Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Seperti Menemukan Tulang Rusuk Yang Hilang

Saya tipikal orang yang lebih suka mainin Facebook dari pada mainin perasaan hati seorang wanita.

#Eeaaa

Tulang Rusuk Yang Hilang

Saya memang suka main Facebook. Hampir setiap hari saya buka Facebook. Bukan untuk update status atau upload foto. Sebab, saya tipikal orang yang jarang update status. Hanya sesekali upload foto dengan caption yang kata teman-teman saya 4l4y. Ya nggak apa-apa sih. Saya bukan orang yang mudah baper. Prinsip hidup saya dalam menggunakan sosial media itu sederhana :

Status Facebook-ku, suka-suka aku. Status Facebook-mu, suka-suka kamu. Kalau kita sama-sama suka, berarti So Sweet!!!

Saya sering buka Facebook hanya untuk melihat video-video lucu atau video tentang makan-makan.  Itu adalah 2 kategori video kesukaan saya. Selain itu, saya buka Facebook untuk baca-baca berita apa yang sedang hangat di bicarakan. Baik di tingkat desa, kota, maupun Negara.

Beruntung hidup di zaman serba maju. Semua bisa di lakukan secara online. Baca berita online. Beli pakaian online. Sampai-sampai chat pun nggak dibalas padahal lagi online.

***

Jadi, sekitar 1 bulan yang lalu, ketika saya sedang asyik melihat video Food Vlogger asal Korea mukbang Kepiting Raksasa seberat 4,4 KG, tiba-tiba teman saya chat.

Chat biasa. Nanyain kabar. Dan kemudian berlanjut ngomongin banyak hal. Salah satu yang menarik adalah topik RELATIONSHIP.

Dia yang tahu bahwa saat ini saya menjalin hubungan dengan seseorang bertanya banyak hal. Ada satu pertanyaan dari dia yang cukup menarik :

KENAPA TERLALU BERHARAP?

Kalau di bilang berharap, iya berharap. Harapan itu penting. Seperti misalnya kamu sekolah tinggi-tinggi dengan harapan suatu saat nanti bisa mendapatkan pekerjaan yang baik biar masa depan mu cerah.

Begitu juga dalam suatu hubungan. Harapan atau berharap itu perlu. Biar kita punya arah. Mau di bawa kemana hubungan kita (nanti nya).

Lah, kok kayak lagu Armada – Mau Di Bawa Kemana 😂

Kalau di bilang berharap sama hubungan yang sekarang, jawabannya memang benar. Di umur saya yang sekarang, tidak ada waktu lagi untuk main-main. Kalau saya bilang cinta sama seseorang, itu adalah sebuah keseriusan. Saya sudah memikirkan matang-matang sebelum bilang “AKU CINTA KAMU”. Arahnya jelas. Pelaminan. Cuma terkadang jalan ke sana itu cukup berliku. Sehingga banyak orang yang awalnya mantap tapi kemudian menjadi ragu.

Begitu juga dengan saya. Terkadang selalu di bayangi oleh rasa ragu. Hati selalu bertanya-tanya : “Benarkah yang saat ini adalah yang terbaik?” atau “Perlukah aku memulai dari awal lagi untuk yang menemukan yang lebih baik?”

Ketika di hinggapi oleh pertanyaan-pertanyaan di atas, hati saya selalu berbisik : “Ketika kamu meninggalkan yang baik hanya untuk mencari yang lebih baik, kamu akan kehilangan yang terbaik”.

Mungkin karena selalu berpegang teguh dengan kalimat di atas lah yang membuat orang-orang yang kenal saya secara pribadi selalu bertanya : “Kenapa terlalu berharap?”

Bukan terlalu berharap, tapi memang nggak mau pergi saja. Apapun alasannya. Bagi saya “Bahagia itu adalah hati yang merasa cukup. Cukup memiliki dia salah satunya”.

***

Begini, kalau bicara soal capek, bosan atau kekurangan pasangan. Saya faham banget soal itu.

Sebagai manusia, perasaan capek dalam menjalani hubungan itu adalah hal yang biasa. Menyatukan dua kepala menjadi satu pemikiran itu susah. Sebab, pelaminan harganya tidak murah. Tapi ketika capek, saya selalu bilang dalam hati “Lebih baik capek menjalani hubungan sama dia, dari pada capek menemukan orang lain yang seperti dia”.

Rasa bosan juga begitu. Berawal dari aktivitas yang terlalu monoton. Pacar saya pernah bilang “Chat abg gitu-gitu doang. Bosan”.

Kalau di fikir-fikir, dalam suatu hubungan itu chatnya rata-rata seragam. Karena memang itulah template default nya.

“Sayang!”
“Kamu lagi apa?”
“Sudah makan atau belum?”

Seperti itukan? Standar banget. Tapi memang itulah kenyataannya. Tidak mungkinkan pacaran tapi chat nya kayak gini “Coba jelaskan perkembangan kasus korupsi di Indonesia?” atau “Kenapa undur-undur jalannya mundur?”

Rasa bosan dalam hubungan itu hal yang biasa. Tinggal bagaimana cara menyingkapi nya saja.

***

Begitu juga kalau bicara soal kekurangan, setiap orang pasti punya kekurangan. Di dunia ini tidak ada yang sempurna kecuali lagunya Andra and The Backbone – Sempurna 😎

Begitu juga pacar saya. Dia juga pasti punya kekurangan. Mulai dari bolak balik badmood sampai suka membuat asumsi sendiri.

Iya, mood dia itu memang susah untuk di jaga. Baru sebentar baik, eh 5 menit kemudian badmood lagi. Padahal kadang bukan saya yang buat dia badmood. Tapi tetap saja saya ikutan kena imbasnya. Udah kayak orang lain yang makan nangka, saya yang harus bayar kena getahnya.

Karena sering badmood itulah saya sampai bilang dalam hati “Kalau nikah nanti, alamat dua kali sekejap aku tidur di ruangan TV kayak anak kucing”.

Itu baru badmood, belum lagi soal asumsi dia yang sering bikin saya pengen nguyah sendal. Iya, saking kesalnya.

Misalnya, saya pernah di cuekin gara-gara dia mimpi saya boncengan sama cewek depan dia. Awal nya dia tanya :

“Tadi abg kemano?”
“Nganto emak ke kedai”
“Lepas tu kemano lagi?”
“Balek. Ngapo memangnyo?”
“Tadi ***a nampak abg bonceng cewek”
“Jam berapo?”
“Sekitar jam 12”
“Salah orang dak?”
“Tidak. Abg bonceng cewek depan ***a”
“…”

Karena merasa tidak bonceng cewek, apalagi lewat depan dia. Saya coba menjelaskan dan minta penjelasan biar nggak salah faham. Tapi WhatsApp yang saya kirimkan ceklis 1.

Lalu saya bolak balik mengingat-ingat kegiatan yang barusan saya lakukan. Saya lihat lagi chat-chat kami yang sebelum-sebelumnya. Saya lihat ada chat di jam 12.

LAH…

Logika saya langsung jalan. Kalau jam 12 saya masih chat-an sama dia. Mana mungkin saya boncengan sama cewek lewat depan dia. Atau dia salah lihat? Kalau salah lihat sih nggak mungkin. Dia bilang tadi lagi tidur-tiduran di kamar. Mana mungkin bisa lihat orang lewat. Apalagi kalau lihat saya boncengan sama cewek.

Setelah bolak balik berfikir dan menemukan jawaban yang masuk akal. Saya langsung buka WhatsApp, kemudian chat dia :

“Sayang lihat abg boncengan sama cewek dalam mimpi ya?”

Awal-awal nya dia masih tetap bilang lihat saya boncengan sama cewek. Tapi setelah saya desak, akhirnya dia ngaku juga kalau dia barusan memang mimpi. Mimpi lihat saya boncengan sama cewek depan dia

Pas dia bilang kayak gitu, rasa nya saya benar-benar pengen ngunyah sandal. Kesal banget. Tapi saya coba untuk tetap kalem.

“Cuma mimpi doang kok, Yank. Jangan terlalu di fikirkan”.
“Mimpi tuh petanda kalau abg akan selingkuhin ***a”
“…”

Itulah asumsi dia. Dia mimpi saya boncengan sama cewek, tapi di dunia nyata saya beneran di cuekin. Seolah-olah mimpi dia itu adalah sebuah kenyataan. Padahal dia tipikal orang yang tidak pernah percaya sama mimpi. Tapi kalau mimpi saya boncengan sama cewek, langsung di percaya.

HA-HA-HA

Walau pun dia selalu badmood, suka buat asumsi sendiri dan banyak kekurangan lainnya. Saya tetap tidak masalah sedikit pun. Saya tetap pada komitmen awal. Membawa hubungan ini ke pelaminan.

Walau banyak masalah datang silih berganti, tapi entah kenapa saya merasa kayak menemukan tulang rusuk yang selama ini saya cari. Susah di jelaskan tapi saya bisa merasakan.

Saya pun terkadang heran, kenapa saya masih bisa bertahan sampai saat ini. Padahal saya menemukan banyak alasan untuk pergi, tapi hati selalu berhasil menemukan satu alasan untuk tetap tinggal.

Mudah-mudahan ini adalah pertanda. Bahwa, dia adalah jawaban dari segala doa. Dulu saya pernah minta di berikan yang terbaik. Dan (mungkin) dialah orangnya.

Posting Komentar untuk "Seperti Menemukan Tulang Rusuk Yang Hilang"