Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Hidup Tanpa Seorang Ibu

Hidup tanpa seorang ibu seharusnya mengajarimu bahwa yang pergi belum tentu karena benci.

Saya bersyukur sampai saat ini masih mempunyai orang tua yang lengkap. Bapak saya yang kelahiran tahun 1942 Alhamdulillah masih sehat. Masih bisa pergi ke kebun. Masih bisa mengendarai motor sendiri. Ini adalah anugerah tak terhingga dari yang mahakuasa. Nikmat kesehatan yang sangat luar biasa. Padahal kita sama-sama menyadari bahwa banyak orang tua yang sudah seumuran bapak saya, jangankan mengendarai motor sendiri, berjalanmu terkadang sangat susah. Apalagi yang mempunyai penyakit bawaan orang tua seperti sesak nafas, hipertensi maupun diabetes.

hidup tanpa seorang ibu

Ibu saya (baca : emak) kelahiran tahun 1953. Masih nampak raut-raut kecantikan di wajah tua beliau. Emak saya juga Alhamdulillah masih sehat. Masih bisa pergi kemana-mana. Hanya tidak bisa mengendarai motor sendiri. Jadi, kalau mau kemana-mana harus di antar. Emak memang tak bisa mengendarai motor. Sudah banyak kali anak-anaknya berniat mengajarinya mengendarai motor. Tapi emak tidak mau dengan alasan takut. Bahkan, kalau emak bisa mengendarai motor sendiri, anak-anaknya siap membelikan motor matic khusus untuk emak. Agar emak senang pergi kemana-mana.

Dua paragraf di atas adalah paragraf pembuka untuk tulisan ini. Sebab, judul tulisan ini tidak ada kaitannya sama saya pribadi dalam artian yang sesungguhnya. Alasan saya menulis ini hanyalah untuk bahan renungan agar kita yang masih mempunyai orang tua terutama ibu untuk banyak-banyak bersyukur. Kita tidak tahu bagaimana rasanya hidup tanpa seorang ibu seperti orang di luaran sana.

***

Saya punya teman yang di tinggalkan ibunya saat usianya masih sangat muda. Padahal saat itu dia masih mempunyai adik yang masih berusia 6 bulan. Terbayangkan bagaimana sedihnya. Di tinggal ibu di saat adiknya masih sangat kecil.

Sebagai anak gadis tertua di keluarga, tanggung jawab mengurus adiknya yang masih kecil mau tidak mau harus di embannya. Mengurus adik kecilnya sambil meneruskan sekolah. Bagaimana cara dia membagi waktu antara sekolah dan mengurus adiknya, jangan tanya sama saya. saya juga bingung.

Memang dia tidak sendirian. Masih ada ayah dan juga saudaranya yang lain. Tapi tetap saja tanggung jawab terbesar dalam mengurus adiknya adalah dia. Alasan nya sederhana. Dia anak tertua di keluarga. Cewek pula.

Itu baru bab mengurus adiknya yang masih kecil. Belum lagi memasak dan lain sebagainya. Tapi untungnya, sebelum meninggal ibunya masih sempat mengajarinya segala hal yang berkaitan dengan tugas seorang ibu rumah tangga. Seperti membersihkan rumah, mencuci piring, memasak, membuat kue dan lain sebagainya.

Tapi tetap saja, kehilangan adalah hal terberat yang (mungkin) dia rasa.

***

Setelah bertahun-tahun berlalu, cewek yang saya ceritakan di atas telah tumbuh menjadi cewek yang cantik dan mandiri. Adiknya yang dulu berusia 6 bulan saat di tinggalkan ibunya, kini sudah duduk di kelas 1 SD.

Dan sekitar sebulan yang lalu, cewek ini upload story di Instagram menggunakan foto makam ibunya  yang di beri tulisan :

Assalamualaikum mak....

Berat mak....😢
Sendirian
Tak ada tempat bersandar
Tak ada tempat untuk cerita
Semuanya di telan sendiri

Mau nangis, tapi percuma
Air mata udah nggak ada
Dihadapkan berbagai macam manusia…
Belajar sabar sendiri
Belajar nahan amarah..
Berat mak....

Mak Adek Rindu 😢

Jujur saja, ketika membaca tulisan tersebut, hati saya tersentuh. Sedih. Seolah-olah saya bisa merasakan apa yang dia rasakan.

Inilah realita hidup, terkadang kita hanya menilai seseorang dari luar saja. Di luar kita melihatnya sebagai orang yang tegar tapi di dalam tidak ada yang tahu. Tidak ada yang tahu kalau hatinya (mungkin) benar-benar hancur.

Saya bilang begini sebab saya pernah di tinggal emak saya pergi ke rumah kakak saya selama 40 hari. Saya merasakan kehilangan yang sangat. Biasanya emak yang selalu mengingatkan untuk makan atau mandi kalau sudah sore. Tapi saat emak tak ada, semua itu semacam kosong. Itu baru di tinggal 40 harian, belum lagi di tinggal untuk selamanya.

Kehilangan seorang ibu juga di rasakan keponaan saya yang tinggal di Johor, Malaysia. Istri dari abang tertua saya meninggal sekitar bulan Februari 2021 yang lalu. Ini adalah kehilangan yang sangat besar bagi keluarga saya. Dan yang paling menyakitkan dari kehilangan tersebut adalah keluarga kami yang tidak bisa melihat Almarhumah untuk yang terakhir kalinya. Sebab sejak ada Covid 19 ini, Malaysia tidak menerima orang dari luar negeri bahkan untuk merentas antar negeri saja susahnya minta ampun. Itu yang abang saya bilang. Tapi untungnya Almarhumah bisa di kebumikan di tempat kelahirannya di Kelantan sana. Entah bagaimana prosesnya, hanya abang saya saja yang tahu.

Masih terbayang di ingatan saya bagaimana setiap menjelang  hari raya, abang saya selalu menghubungi saya, bilang kalau dia bakalan balik ke kampung halaman bersama keluarganya, minta di jemput di pelabuhan Bandar Setia Raja Selat Baru. Biasanya 2 hari sebelum hari raya. Hampir setiap tahun. Kalau tidak pun 2 tahun sekali.

Abang saya adalah sosok yang hebat. Kakak ipar saya juga. Tipikal anak yang tahu mengenang budi dan selalu ingat orang tua. Selalu menyempatkan diri melihat orang tua tanpa memikirkan masalah biaya. Bayangkan setiap tahun balik ke kampung halaman dari Malaysia bersama keluarga. Anak abang saya saja 6 orang. Terbayangkan berapa biaya yang di keluarkan untuk ongkos fery penyeberangan. Itu baru ongkos fery, belum yang lain-lain lagi.

Tapi itu semua tidak pernah menjadi masalah bagi abang saya. Bahkan, kakak ipar saya yang sekarang sudah meninggal sangat senang kalau di ajak balik ke kampung abang saya. sebuah potret keluarga yang harmonis.

***

Sebelum Covid 19 menyerang, kakak ipar saya berniat balik ke kampung halaman terus pergi ke Batam untuk melihat si Zeyn, anaknya adik saya. Tapi sampai beliau meninggal, niat tersebut tidak pernah kesampaian. Memang benar kata orang-orang “Manusia hanya bisa berencana, tapi Tuhan lah yang menentukan segalanya”.

Dan yang paling sedih itu ketika mendengar takbir hari raya. Menetes air mata. Mengenang kenangan yang telah berlalu bersama Almarhumah. Setiap malam raya, kami keluarga besar makan bersama-sama. Terkadang sampai rebutan makanan segala. Benar-benar menyenangkan.

Setelah makan, semua sibuk bantu membantu menyiapkan segala sesuatu untuk hari raya besok pagi. Ada yang mengisi kue raya ke dalam toples, ada yang memasak ketupat, ada yang main petasan. Dan ada yang tidak ngapa-ngapain. Hahaha

(SEMUA AKAN MEMUDAR SEIRING WAKTU BERJALAN)

Kehilangan itu pasti. Cepat atau lambat kita semua akan berpisah. Tinggal bagaimana cara kita menyiapkan diri menghadapi perpisahan dan sekuat apa kita bertahan saat perpisahan itu telah terjadi.

Terakhir, hidup tanpa seorang ibu itu berat. Saya yakin, kamu yang di luar sana pasti cukup kuat. Semangat!

2 komentar untuk "Hidup Tanpa Seorang Ibu"

Jika ada pertanyaan, silahkan corat-coret di kotak komentar. Terima kasih!